BACOTANBOLA - Sepakbola lahir di Inggris. Dari jalan-jalan kecil Birmingham hingga stadion megah Wembley, permainan ini berakar dalam budaya mereka, seperti darah yang mengalir di nadi bangsa. Wajar bila Inggris merasa sepakbola adalah milik mereka, the beautiful game yang pertama kali mereka beri bentuk. Maka, ketika pada musim panas 1966, Bobby Charlton dan rekan-rekannya mengangkat trofi Piala Dunia di Wembley, dunia seolah kembali pada porosnya: sepakbola sudah pulang ke rumah.
Namun kemenangan itu ternyata bukan awal dari kejayaan abadi, melainkan awal dari sebuah kutukan panjang. Setiap generasi setelahnya hidup di bawah bayang-bayang tahun 1966. Setiap turnamen besar, Inggris selalu datang dengan optimisme yang membuncah, hanya untuk pulang dengan luka baru. Dan slogan "Football’s Coming Home," yang lahir tiga dekade kemudian, semakin menjelma menjadi mantra pahit, nyanyian abadi yang justru mengingatkan pada luka lama.
1966: Malam yang Menjadi Beban
Wembley, 30 Juli 1966. Inggris menutup abad pertamanya dalam sepakbola dengan pesta terbesar. Geoff Hurst mencetak hattrick, satu-satunya dalam sejarah final Piala Dunia, dan Bobby Moore mengangkat trofi Jules Rimet dengan senyum abadi. Di jalan-jalan London, euforia meluap: sepakbola akhirnya benar-benar "pulang ke rumah."
Namun malam itu ternyata menjadi anomali, bukan titik awal. Inggris tak pernah lagi mengulang pencapaian tersebut. Bukannya menjadi pondasi kejayaan, 1966 berubah menjadi beban sejarah. Generasi berikutnya selalu diingatkan bahwa mereka harus mengulang momen itu. Dan beban ini, bukannya mengangkat, justru sering menenggelamkan.
Lagu yang Menjadi Kutukan
Tiga puluh tahun setelah kemenangan itu, Inggris menjadi tuan rumah Euro 1996. Saat itulah lahir lagu ikonik "Three Lions", dengan bait yang sederhana namun penuh harapan: "Football’s coming home." Lagu itu segera menjadi anthem nasional, simbol keyakinan bahwa 30 tahun penantian akan berakhir.
Di lapangan, Inggris tampil memikat. Paul Gascoigne menari di lini tengah, Alan Shearer mencetak gol demi gol, dan Wembley kembali bergetar. Namun semuanya runtuh di semifinal melawan Jerman, lewat drama adu penalti. Gareth Southgate, yang kini justru menjadi pelatih, kala itu gagal mengeksekusi tendangan. Sejak hari itu, "Football’s coming home" tak lagi murni sebagai harapan; ia berubah menjadi kutukan. Sebuah nyanyian yang setiap kali dinyanyikan, seakan membawa kenangan pahit yang terus berulang.
Adu Penalti dan Luka Kolektif
Sejarah Inggris di turnamen besar tak bisa dipisahkan dari trauma adu penalti. Italia 1990, Euro 1996, Euro 2004, Piala Dunia 2006, Euro 2012 — skenarionya selalu sama. Generasi demi generasi jatuh di titik putih, seakan garis penalti memang dipagari oleh kutukan. Nama-nama besar selalu tercatat bukan karena gol kemenangan, melainkan karena kegagalan: Southgate, Beckham, Lampard, Gerrard, hingga Saka di Euro 2020.
Setiap kegagalan itu bukan hanya milik pemain yang menendang, melainkan luka kolektif bangsa sepakbola. Pub, bar, ruang keluarga, semuanya sunyi saat bola gagal masuk. Seolah-olah nasib satu negara dirajut di titik 12 yard itu dan selalu robek di detik terakhir.
Berlin 2024: Luka yang Terus Terulang
Harapan terbaru muncul di Euro 2024. Inggris datang dengan generasi emas baru: Harry Kane, Jude Bellingham, Phil Foden, Declan Rice. Mereka melangkah hingga final di Berlin, setelah mengalahkan Swiss lewat adu penalti dan menyingkirkan Belanda dengan dramatis. Untuk pertama kalinya sejak 1966, Inggris berdiri di final turnamen besar di luar Wembley.
Namun sejarah kembali berulang. Melawan Spanyol, Inggris bertahan hidup berkat gol penyama kedudukan Cole Palmer. Publik Inggris menahan napas, berharap bab terakhir akhirnya berubah. Tapi di menit ke-86, Mikel Oyarzabal mencetak gol kemenangan. Inggris kalah 2-1, dan sekali lagi, "Football’s coming home" hanya menjadi nyanyian yang tenggelam dalam tangis. Mereka kini menjadi tim pertama yang kalah di dua final Euro secara beruntun, luka baru yang menambah panjang daftar trauma sejak 1966.
Epilog: Rumah yang Selalu Tertutup
"Football’s Coming Home" mungkin akan terus dinyanyikan di pub-pub London, Manchester, Liverpool, hingga Birmingham. Lagu itu sudah menjadi bagian dari identitas, doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Tapi bagi lawan-lawannya, nyanyian itu sudah lama berubah menjadi ejekan.
Sepakbola memang lahir di Inggris. Tapi sejak 1966, rumah itu selalu terkunci. Piala demi piala melewati jalan lain: Brasil, Jerman, Argentina, Prancis, Italia, Spanyol. Sementara Inggris, sang pencipta permainan, masih berdiri di depan pintu, menunggu trofi kembali namun tak pernah benar-benar datang. (mfrll)




0 Komentar