BACOTANBOLA - Sepakbola tidak pernah puas hanya menjadi olahraga. Kadang ia memilih untuk menjadi tragedi Yunani, kadang menjadi komedi Shakespeare, kadang menjadi kitab suci. Malam 8 Maret 2017 di Camp Nou adalah semuanya sekaligus. Malam ketika logika mati, sejarah dibanting, dan dunia dipaksa percaya bahwa mukjizat itu nyata. Dunia menamainya satu kata sederhana: Remontada.

Aku menyebutnya malam ketika sepakbola berubah jadi agama.

Luka Paris yang Seperti Vonis Mati

Segalanya berawal di Parc des Princes. Malam itu, Barcelona dipermalukan PSG 0-4. Aku masih bisa merasakan betapa dinginnya tubuhku saat menonton kekalahan itu, meski hanya lewat layar komputer. Messi berjalan seperti bayangan, Neymar terdiam, Suárez lenyap. PSG menari di atas reruntuhan kebesaran Blaugrana.

Aku menatap angka di pojok layar: 4-0. Bukan sekadar skor, tapi vonis mati. Tiga minggu setelahnya, dunia tak henti menertawakan Barcelona. Di sekolah, teman-teman mengejekku: "Sudah habis timmu." Aku tersenyum kecut, tapi di dalam hati aku ingin menutup telinga.

Namun Luis Enrique, sang pelatih, menolak tunduk. Dalam konferensi pers, dengan tatapan yang menusuk kamera, ia berkata: "Jika PSG bisa mencetak empat gol, kami juga bisa mencetak enam." Dunia menganggapnya gila. Tapi bagi kami, fans kecil yang sudah patah, kalimat itu berubah jadi mantra.

Malam Camp Nou di Layar Bajakan

Aku tak berada di stadion. Aku tak punya TV kabel. Malam itu, aku duduk di depan layar komputer tua, jendela kamarku terbuka, lampu sengaja kupadamkan. Aku membuka sebuah situs streaming ilegal yang penuh iklan obat kuat dan iklan judi murahan. Kualitas gambarnya buruk, kadang tersendat, komentarnya pun bukan bahasa yang kumengerti.

Tapi aku bertahan. Karena malam itu bukan soal kualitas gambar. Malam itu soal iman. Malam itu soal 1% harapan.

Begitu peluit dibunyikan, aku menempelkan wajah ke layar. Dan ketika Suárez mencetak gol di menit ketiga, aku hampir membalik kursi. 1-0. Harapan yang kusimpan dalam-dalam mulai menggedor dada.

Lalu Kurzawa membuat gol bunuh diri. 2-0. Aku menggertakkan gigi, membisikkan mantra Enrique. Messi menambah lewat penalti. 3-0. Aku menutup wajahku dengan bantal, tak percaya. Hanya butuh satu gol lagi, dan dunia kembali terbuka.

Tapi tiba-tiba, Cavani mencetak gol tandang. 3-1. Aku memukul meja, hampir menutup laptop. Situs ilegal itu kembali nge-lag, wajah Cavani tersenyum beku di layar. Aku ingin menangis. Rasanya mukjizat yang kusimpan pecah jadi debu.

Nabi dari Brasil

Tapi malam itu, sepakbola memilih aktor lain. Neymar, yang selama ini disebut bayang-bayang Messi, menolak tunduk. Wajahnya membara, langkahnya penuh amarah. Ia tampak bukan manusia, melainkan nabi yang diutus khusus untuk malam itu.

Di menit ke-88, ia menendang bebas bola dengan lengkungan sempurna. Masuk. 4-1. Aku berteriak di kamar, kursi terjungkal, tetangga mungkin mengira aku kerasukan.

Tak lama setelah itu, di menit ke-90, Neymar maju mengambil penalti. Kakinya dingin, jaring PSG kembali bergetar. 5-1. Aku meremas rambutku, air mata mulai turun. Situs streaming-ku macet sepersekian detik sebelum penalti. Jantungku hampir copot. Ketika layar bergerak lagi, bola sudah bergulir ke dalam gawang. Aku berteriak histeris, nyaris meninju monitor.

Surga yang Meledak

Menit 90+5. Neymar menggiring bola di sisi kiri, mengangkat kepalanya, dan mengirim umpan lambung. Bola itu melayang, dan waktu berhenti. Aku menahan napas, tanganku memeluk dada. Dari belakang, muncul sosok yang tak pernah ditulis dalam naskah: Sergi Roberto.

Ia menyentuh bola. Gawang PSG bergetar. Gol. 6-1.

Aku menjerit. Bukan sekadar jerit. Itu adalah letusan jiwa. Aku melompat dari kursi, berlari keliling kamar sempitku, menendang udara, memukul tembok, berteriak "Gol! Gol! Gol!" sampai suaraku habis. Situs ilegalku freeze tepat setelah bola masuk. Aku menatap layar beku itu dengan air mata yang jatuh deras. Ironisnya, aku menangis di depan gambar beku. Tapi aku tahu, aku sedang menyaksikan keajaiban terbesar hidupku.

1% Chance, 99% Faith

Peluit panjang berbunyi. Barcelona benar-benar melakukannya. Dari 0-4 menjadi 6-1. Dari vonis mati menjadi kebangkitan abadi. Aku terduduk di lantai kamar, napas tersengal, baju basah oleh keringat.

Dan saat itu aku sadar, kalimat di spanduk Camp Nou, "1% chance, 99% faith", bukan hanya milik malam itu. Itu adalah kalimat untuk hidup. Aku hanyalah remaja dengan laptop tua, dengan koneksi internet yang sering mati, dengan situs ilegal penuh iklan murahan. Tapi aku percaya. Aku menaruh seluruh imanku pada tim yang dicintai bocah sebelas tahun.

Malam itu mengajariku bahwa hidup kadang memang 0-4. Hidup kadang seolah menutup semua pintu. Tapi kalau kau punya 1% peluang dan 99% keyakinan, mukjizat selalu mungkin datang.

Dan aku, dengan mata bengkak dan suara serak, bisa berkata pada diriku sendiri: aku ada di sana. Aku menyaksikannya. Remontada bukan sekadar sepakbola. Itu adalah iman yang dijadikan nyata. (mfrll)