BACOTANBOLA - Ada luka yang kecil, ada luka yang dalam, ada pula luka yang menghancurkan. Kalau final Piala Dunia 2014 adalah tangisan pertamaku sebagai bocah, maka Anfield 2019 adalah jurang terdalam yang kutemui sebagai remaja. Ironis memang, dua patah hati paling memorakporandakan hidupku datang dari sumber yang sama: Messi. Lelaki mungil yang kupuja sebagai dewa, tapi juga yang membuatku merasakan sakit paling perih.

Messi di Camp Nou adalah Bukti Tuhan Turun ke Bumi

Mari kembali ke leg pertama semifinal itu, di Camp Nou. Barcelona menghadapi Liverpool, tim yang kala itu sedang mengaum di bawah Klopp. Tapi di malam itu, semua mesin, semua gegap gempita Premier League, luluh di hadapan satu nama: Messi.

Barcelona menang 3-0. Messi mencetak dua gol dan salah satunya, oh, biarlah aku ulangi beribu kali: tendangan bebas ke gawang Alisson dari jarak absurd, sekitar 35 meter. Bola melengkung bagai meteor, menusuk pojok gawang yang tak tersentuh.

Aku menatap layar dengan mata berbinar. Itu bukan gol, itu pewahyuan. Messi tidak lagi sekadar pemain. Ia adalah nabi sepakbola. Ia adalah Tuhan kecil yang turun ke bumi, menegaskan kepada dunia bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya.

Malam itu aku benar-benar percaya bahwa dongeng indah sedang ditulis. Setelah bertahun-tahun, Messi akan kembali ke final Liga Champions. Setelah luka 2014, inilah penebusan. Aku tidur dengan hati berbunga, yakin bahwa takdir ada di pihakku.

Anfield: Neraka yang Bernyanyi

Namun, datanglah leg kedua. Anfield. Stadion tua itu tidak sekadar tempat, ia adalah neraka yang bernyanyi. Ribuan suporter Liverpool berdiri, meneriakkan You’ll Never Walk Alone dengan suara penuh getar, mengisi setiap sudut dengan energi yang tak bisa dijelaskan.

Aku menontonnya dari layar kaca, tapi atmosfer itu menembus jarak, menembus dinding rumah, menembus dadaku. Aku bisa merasakannya: ada badai besar yang sedang datang.

Aku berkata pada diriku sendiri: "Tenang, tiga-nol itu terlalu besar untuk dibalik." Logika masih berusaha menenangkanku. Tapi sepakbola bukan tentang logika. Sepakbola adalah tentang jiwa, dan malam itu jiwa Liverpool terbakar, sementara Barcelona justru mengecil.

Palu Godam di Dadaku

Gol pertama datang. 1-0. Aku masih tenang, berkata, "Tak masalah."

Gol kedua datang. 2-0. Aku mulai menggeliat di kursi, jantungku berdebar lebih cepat.

Gol ketiga. 3-0. Aku menatap layar dengan panik, telapak tanganku dingin.

Dan lalu… gol keempat.

Sepak pojok yang tampak biasa. Semua orang lengah. Trent Alexander-Arnold berjalan menjauh, seolah menyerah. Tapi tiba-tiba ia berbalik cepat, mengirim bola silang rendah. Divock Origi ada di sana, satu sentuhan, satu tendangan, satu gol. 4-0. Kalimat "corner taken quickly" masih menghantuiku hingga sekarang.

Aku terpaku. Mulutku ternganga, tapi tak ada suara keluar. Itu bukan sekadar gol. Itu adalah palu godam yang menghancurkan dadaku. Suara sorak Anfield membanjiri layar, sementara aku di sini hanya bisa terdiam.

Aku tahu pada detik itu: Barcelona sudah mati. Messi sudah jatuh. Dan aku, remaja kecil di ruang tamu, ikut hancur bersama mereka.

Wajah Messi: Dewa yang Jadi Manusia

Kamera menyorot Messi. Wajahnya kosong, matanya mencari jawaban. Ia berdiri di tengah lapangan, diam, seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa seluruh dunianya runtuh.

Aku menatapnya, dan dadaku sesak. Messi yang seminggu lalu adalah Tuhan, kini terlihat seperti manusia paling rapuh. Dari situlah ironinya menamparku: sumber kekuatanku adalah sumber kehancuranku.

Sebagai bocah, aku patah hati karena Messi gagal di final Piala Dunia.

Sebagai remaja, aku patah hati karena Messi tumbang di Anfield.

Sama-sama dia. Sama-sama luka.

Malam yang Tak Pernah Lenyap

Peluit panjang berbunyi. Barcelona tersingkir. Liverpool melaju. Aku tetap duduk di depan layar, tak bergerak. Tubuhku kaku, pikiranku kosong.

Malam itu aku tidak tidur. Aku hanya rebah di ranjang, menatap langit-langit kamar. Kata "Anfield" berputar-putar di kepalaku, seperti mantra kutukan. Bahkan ketika aku menutup mata, aku masih melihat wajah Messi yang patah.

Hari-hari setelahnya, aku hidup dengan pahit. Setiap kali ada teman menyebut nama Liverpool, dadaku perih. Setiap kali melihat foto Messi, aku merasakan luka itu lagi. Luka yang tak bisa disembuhkan waktu.

Luka yang Jadi Tanda Cinta

Anfield 2019 bukan sekadar kekalahan. Itu adalah patah hati terbesar dalam hidupku. Luka itu mengajarkanku bahwa mencintai sepakbola berarti juga bersedia dihancurkan olehnya.

Ironis memang: bocah kecilku menangis karena Messi, remajaku hancur karena Messi. Tapi mungkin di situlah arti cinta sejati, tetap setia meski disakiti berkali-kali.

Karena pada akhirnya, meski aku ingin membenci, aku tidak bisa. Aku tetap mencintai Messi. Aku tetap mencintai Barcelona. Aku tetap mencintai sepakbola. Luka itu bukan tanda akhir, melainkan tanda bahwa cintaku nyata. (mfrll)