BACOTANBOLA - Ada yang bilang, jersey sepakbola pertama akan selalu punya tempat abadi di hati. Ia mungkin lusuh, bahannya panas, bahkan KW murahan dari toserba, tapi rasa yang ia tinggalkan lebih mewah daripada kain paling mahal sekalipun. Bagiku, jersey bukan sekadar pakaian olahraga. Ia adalah kenangan yang melekat di kulit, doa yang menempel di dada, dan identitas yang kutemukan ketika aku masih bocah.

Dan perjalanan itu dimulai dengan tiga jersey. Tiga lembar kain sederhana yang membentuk fondasi cintaku pada sepakbola.

Inter Milan, Pirelli di Dada dan Zanetti di Punggung

Aku masih enam tahun. Dunia masih sederhana: main kelereng, lari-larian di gang, sesekali berebut bola plastik dengan teman. Tapi suatu hari, sesuatu yang ajaib terjadi, aku mendapatkan jersey pertamaku.

Warnanya biru-hitam, dengan garis tegas seperti malam yang disayat kilatan cahaya. Di bagian dadanya tertera tulisan Pirelli, putih mencolok. Aku kecil tidak tahu apa itu Pirelli. Kupikir itu nama pahlawan Romawi kuno, atau mungkin semacam mantra sakti. Baru belakangan kutahu: itu merek ban mobil. Tapi siapa peduli? Bagiku saat itu, kata itu terdengar megah, seakan melindungiku setiap kali aku berlari di lapangan tanah becek depan rumah.

Dan di punggungnya, ada nama yang kelak kukenal sebagai salah satu legenda sejati: Zanetti. Javier Zanetti, sang kapten abadi Inter, lelaki Argentina dengan rambut rapi, wajah tegas, dan stamina seperti kuda. Ia bisa bermain di mana saja, bertahan, menyerang, tak pernah terlihat lelah. Jika sepakbola adalah perang, Zanetti adalah jenderal yang selalu ada di garis depan sekaligus penjaga terakhir.

Aku tidak tahu semua detail itu di usia enam tahun. Yang kutahu hanya satu: mengenakan jersey dengan namanya membuatku merasa hebat. Aku, bocah kecil dengan kaki kurus dan bola plastik murahan, berlari-lari seolah-olah sedang memimpin Inter Milan di final Liga Champions.

Sekarang aku tahu jersey itu hanyalah KW dari toserba. Bahannya tipis seperti kertas minyak, sablon nomornya cepat mengelupas, dan tiap kali kucuci warnanya makin pudar. Tapi persetan! Saat itu aku memakainya seperti zirah ksatria. Bagiku, itulah kostum superhero.

Irfan Bachdim, Euforia Merah Putih di Dadaku

Beberapa tahun berlalu, datanglah jersey keduaku. Kali ini warnanya merah menyala, bukan biru-hitam. Di dada terpatri lambang Garuda, di belakangnya tercetak nama Irfan Bachdim.

Oh, tahun itu 2010, Indonesia sedang dilanda demam sepakbola yang luar biasa. Piala AFF menjadi panggung euforia nasional. Semua orang membicarakannya: dari bapak-bapak di warung kopi, ibu-ibu yang biasanya cuek, sampai anak-anak sekolah yang tiba-tiba hafal nama pemain timnas. Stadion bergemuruh, televisi penuh sorotan, dan di tengah sorotan itu berdirilah sosok Irfan Bachdim.

Ia datang seperti meteor, membakar langit sepakbola Indonesia. Wajahnya tampan, aksinya lincah, gol-golnya membangkitkan semangat yang lama padam. Irfan bukan sekadar pemain, ia menjadi simbol harapan. Setiap kali ia mencetak gol, rasanya seperti seluruh negeri berdiri bersorak bersamaan.

Dan aku, dengan jersey KW merahnya di tubuh, merasa ikut menjadi bagian dari sejarah itu. Meski sablonnya miring sedikit, meski benangnya mudah tercabut, siapa peduli? Saat aku memakainya, aku merasa darah merah putih berdesir lebih kencang di nadiku. Aku ikut menjadi bagian dari 100 juta suara yang bersatu mendukung timnas.

Aku masih ingat menendang bola plastik di jalanan sempit, pura-pura menjadi Bachdim, membayangkan ribuan orang meneriakkan namaku. Tentu saja kenyataannya: tendanganku melenceng, bola nyangkut di got, dan teman-teman menertawakan. Tapi bukankah cinta memang begitu? Kadang konyol, tapi selalu indah.

Barcelona 2012 dan Messi, Dewa Kecil dari Rosario

Dan akhirnya, sampailah aku pada jersey ketiga yang paling monumental. Tahun 2012, aku akhirnya mendapatkan jersey Barcelona. Ah, Blaugrana. Biru-merah yang berpadu seperti senja yang tak pernah pudar.

Di punggung jersey itu ada nama yang tak perlu dijelaskan lagi: Messi. Lionel Andrés Messi. Tahun itu, 2012, ia mencetak 91 gol dalam satu kalender tahun, rekor yang membuatnya lebih mirip dewa daripada manusia. Tubuhnya mungil, langkahnya rendah hati, tapi setiap sentuhannya seperti sihir.

Mengenakan jersey itu, meskipun lagi-lagi KW, rasanya seperti mengenakan jantungku sendiri. Aku berdiri di depan kaca, memandang nama "L. Messi" di punggungku, lalu tersenyum puas. Seakan-akan janji kecilku sejak PES 2009 akhirnya benar-benar sah. Aku bukan lagi bocah yang sekadar memilih Barcelona di layar komputer, aku sekarang benar-benar mengenakan warnanya, merasakannya menempel di kulitku.

Jersey itu kupakai ke mana-mana. Ke sekolah, ke warung, bahkan ke acara keluarga. Warnanya memang cepat pudar, sablonnya mulai retak, tapi siapa peduli? Bagiku, itu bukan sekadar kain. Itu adalah bendera kesetiaan.

Setiap kali aku mengenakannya, aku merasa berada di Camp Nou, berdiri di tengah lautan pendukung, menyaksikan Messi menari di lapangan. Aku bukan lagi bocah biasa, aku adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

KW, Tapi Tak Tergantikan

Sekarang aku tahu, jersey-jersey pertamaku bukan barang mewah. Mereka hanyalah KW murahan dari toserba, digantung seadanya di samping sandal jepit dan mainan plastik. Tapi nilai emosional mereka tak bisa ditukar dengan uang berapa pun.

Inter Milan memberiku Zanetti, sosok tangguh yang membuatku percaya diri.

Timnas memberiku Bachdim, simbol harapan dan nasionalisme yang membara.

Barcelona memberiku Messi, ikon abadi, dewa kecil yang membuat sumpahku sah.

Tiga jersey itu mungkin tidak asli, tapi kenangan yang mereka bawa adalah nyata. Sampai sekarang, jika aku menutup mata, aku bisa merasakan lagi betapa bangganya diriku ketika pertama kali mengenakannya.

Karena pada akhirnya, jersey bukan soal kain apa, asli atau KW. Jersey adalah soal hati. Dan hati tak pernah peduli label. (mfrll)