BACOTANBOLA - Sepakbola bisa memberi senyum paling lebar, tapi juga bisa menancapkan luka pertama yang tak pernah benar-benar sembuh. Dan bagiku, luka itu datang pada malam Ramadhan tahun 2014, ketika aku masih kecil, kurus, dan terlalu rapuh untuk memahami bahwa cinta pada sepakbola berarti juga siap untuk patah hati.

Layar Tancap di Depan Rumah

Aku masih ingat jelas suasananya. Malam itu udara dingin menusuk, tapi di depan rumah tetangga ada layar tancap berdiri gagah, kain putih terbentang seperti panggung raksasa. Proyektor berdebu memantulkan cahaya, menciptakan dunia lain di antara pohon mangga dan kursi plastik.

Aku duduk di samping ayahku. Kami bukan penonton VIP, hanya dua orang di kursi reyot, tapi rasanya seperti duduk di tribun Maracanã. Bau gorengan dari warung samping jalan bercampur dengan asap rokok bapak-bapak, sementara anak-anak kecil berlarian, sesekali mengganggu tayangan dengan bayangan mereka. Tapi siapa peduli? Malam itu adalah malam final Piala Dunia, Argentina melawan Jerman.

Messi dan Harapan Kecilku

Aku datang dengan satu harapan: melihat Messi mengangkat trofi emas. Aku masih bocah, tubuhku kurus, wajahku pucat karena berpuasa seharian. Ngantuk menghantam, tapi aku menahan mata agar tetap terbuka. Karena bagiku, malam itu bukan sekadar pertandingan, itu takdir.

Setiap kali Messi menyentuh bola di layar tancap, aku merasakan darahku berdesir lebih cepat. Seakan aku ikut berlari bersamanya, kecil di tengah lapangan raksasa. Ayahku sesekali tersenyum melihat semangatku, meski aku tahu dalam hati beliau lebih realistis: Jerman adalah mesin yang tak mudah dihentikan. Tapi aku tidak mau tahu. Aku hanya percaya pada Messi.

Harapan yang Berulang Kali Patah

Pertandingan berjalan. Lalu datanglah momen itu, Gonzalo Higuaín, tinggal berhadapan dengan kiper. Aku bangkit setengah berdiri, hampir melompat. Tapi tendangannya melenceng. Bola keluar. Dari kerumunan layar tancap, terdengar erangan serentak.

Aku jatuh kembali ke kursi, tubuh kecilku goyah. Seakan energi puasaku yang tersisa ikut lenyap bersama bola itu. Ayah menepuk pundakku, berkata pelan: "Tenang, masih ada waktu." Aku mencoba percaya.

Gol yang Merobek Malam

Tapi waktu berkata lain. Menit ke-113, Mario Götze menerima bola silang, mengendalikannya dengan dada, lalu menyepak ke gawang. Gol.

Suara teriakan pecah di layar tancap, sebagian bersorak, sebagian terdiam. Aku termasuk yang terdiam. Bola itu bukan hanya masuk ke gawang Romero, tapi juga menembus dadaku yang kecil dan kurus. Aku menunduk, menolak percaya.

Messi terlihat berjalan lesu. Kamera menyorot wajahnya. Mata kecilku yang sembab karena kantuk memandanginya, dan entah kenapa, aku merasa sakit yang sama. Seakan kami berdua, aku di kursi reyot, Messi di lapangan Maracanã, sama-sama kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.

Luka yang Mengikat

Subuh sebentar lagi tiba. Aku tahu aku harus sahur, harus berpuasa lagi esok harinya. Tapi tubuhku sudah terlalu letih, kepalaku pusing, hatiku hampa. Aku duduk diam, memeluk lutut. Ayah mengajakku pulang, tapi langkahku gontai, seolah-olah aku juga ikut kalah bersama Argentina.

Itulah kali pertama aku benar-benar sadar: sepakbola bisa menyakitkan. Rasa lapar, ngantuk, dan lelah malam itu masih bisa kutanggung. Tapi luka karena melihat Messi gagal, itu jauh lebih berat.

Final Piala Dunia 2014 adalah patah hati pertamaku. Bukan yang terbesar, aku tahu ada luka yang lebih kelam menantiku (ya, tragedi Anfield, spoiler). Tapi luka pertama selalu istimewa. Ia menempel bukan hanya di ingatan, tapi di tubuh: kurus, kecil, ngantuk, lapar, semua bercampur jadi satu dengan rasa sakit.

Dan anehnya, justru dari patah hati itulah cintaku pada sepakbola semakin dalam. Karena hanya sesuatu yang begitu berarti yang mampu membuatmu sakit sedalam itu. (mfrll)