BACOTANBOLA - Pikirkan baik-baik betapa absurdnya hidup kita. Dari Senin sampai Jumat, kita memeras keringat, menahan kantuk, dan menghadapi tekanan hidup yang melelahkan. Kita menanti akhir pekan sebagai upah untuk menghibur diri.

Namun, begitu hari Sabtu tiba, kita justru dengan sukarela menyerahkan seluruh suasana hati kita pada sebelas laki-laki asing di atas lapangan hijau.

Mereka bisa membuat minggu kita terasa indah, atau menghancurkannya dalam sekejap. Sialan, bukan?

Hanya butuh waktu 90 menit bagi kaki dan tangan sebelas orang itu untuk menentukan apakah hari Senin kita akan diawali dengan senyum lebar, atau dengan wajah kusut. Kalau mereka menang, kopi Senin pagi rasanya jauh lebih nikmat.

Kalau mereka kalah (atau lebih menyakitkan, kebobolan di menit akhir), seluruh akhir pekan kita mendadak runtuh dan dunia terasa abu-abu.

Penulis olahraga terkenal, Nick Hornby, dalam memoar legendarisnya yang berjudul Fever Pitch, menggambarkan kegilaan ini dengan sangat tepat.[¹]

"Saya telah jatuh cinta dengan sepak bola, seperti saya akan jatuh cinta dengan wanita di kemudian hari: tiba-tiba, tanpa dapat dijelaskan, tanpa memikirkan rasa sakit atau kehancuran yang akan ditimbulkannya."

Secara logika, menyerahkan kebahagiaan hidup pada hasil olahraga adalah sebuah gangguan jiwa. Namun, bagi kita, inilah bentuk romantisme paling murni sekaligus paling gila.

Lalu mengapa kita dengan sengaja menjerumuskan diri ke dalam ketidakpastian emosional ini? Jawabannya sederhana, karena hidup di luar stadion sudah terlalu diatur, kaku, dan penuh kepalsuan.

Eduardo Galeano, sastrawan besar asal Uruguay, dalam bukunya Soccer in Sun and Shadow, menulis bahwa sepak bola adalah salah satu dari sedikit ruang di dunia modern di mana manusia diizinkan untuk kembali menjadi "makhluk purba" yang emosional. Galeano menyebut suporter sebagai sosok yang religius, di mana stadion adalah tempat ibadahnya.[²]

Di atas tribun atau di depan layar televisi, struktur kelas sosial kita runtuh seketika. Kita bisa berpelukan erat dengan orang asing di sebelah kita hanya karena bola karet bersarang di jaring gawang lawan. Sosiolog olahraga Desmond Morris, dalam studinya The Soccer Tribe, menjelaskan bahwa gol dalam sepak bola modern bukan sekadar poin, melainkan sebuah "orgasme sosial" yang menyatukan ribuan kepala dalam satu frekuensi kegembiraan yang magis.[³]

Ketika tim kita kalah, kemarahan dan kekecewaan kita sebenarnya adalah bentuk katarsis, sebuah ruang aman bagi manusia modern untuk melepaskan segala penat, frustrasi, dan agresi yang terpendam sepanjang minggu.[⁴]

Kita rela mempertaruhkan akhir pekan karena kita rindu merasakan emosi yang meledak-ledak dan jujur, sesuatu yang jarang kita dapatkan di rutinitas kantor atau meja kuliah.

Romantisme gila ini menjadi benteng pertahanan terakhir kita hari ini. Mengapa? Karena di luar lapangan, sepak bola sedang dijajah oleh industrialisasi yang dingin dan serakah. Industri ingin mengubah sepak bola menjadi tontonan yang steril, aman, dan tanpa distorsi demi memuaskan sponsor global.

Mereka ingin stadion diisi oleh penonton yang duduk manis, mengunyah popcorn, dan memperlakukan pertandingan seperti bioskop yang mahal.

Namun, suporter tradisional menolak penjinakan itu. Bagi mereka, sepak bola adalah perpanjangan dari harga diri kelas pekerja.[⁵]

Keliaran kecil di tribun seperti menyalakan suar yang membuat stadion berkabut atau berteriak sampai urat leher keluar adalah cara suporter menegaskan kedaulatan mereka.

Sosiolog Prancis, Christian Bromberger, dalam penelitiannya tentang budaya sepak bola, menyebut bahwa atmosfer beringas di tribune adalah "teater kehidupan" tempat masyarakat mengekspresikan perlawanan terhadap otoritas.[⁶]

Sedikit rasa anarki itu adalah dekorasi wajib untuk menemani perjuangan sebelas orang di lapangan. Tanpa itu, sepak bola hanyalah bisnis korporat yang hambar. Mantan pelatih legendaris Arrigo Sacchi bahkan pernah berujar kalau sepak bola adalah hal paling penting dari hal-hal yang tidak penting di dalam hidup.[⁷]

Hal paling indah dari kegilaan ini justru muncul ketika sebelas orang yang kita dukung itu gagal. Ketika mereka membuat akhir pekan kita berantakan, kita tidak pernah sendirian dalam penderitaan itu.

Filsuf Albert Camus, yang di masa mudanya merupakan seorang penjaga gawang di Aljazair, pernah mengeluarkan kutipan yang sangat tersohor.[⁸]

"Semua yang paling saya ketahui tentang moralitas dan kewajiban manusia, saya berutang kepada sepak bola."

Di dalam sepak bola, kita belajar tentang arti kesetiaan yang tidak rasional. Berbagi rasa patah hati di tongkrongan malam minggu, atau berjalan lesu keluar stadion bersama ribuan orang lainnya, menciptakan sebuah ikatan persaudaraan yang aneh tapi nyata (brotherhood in adversity).[⁹]

Kita belajar bahwa kesetiaan tidak diuji saat tim mengangkat piala, melainkan saat kita tetap bersiap di depan layar untuk minggu depan, setelah akhir pekan kita baru saja dihancurkan oleh mereka.

Luka batin akibat kekalahan malam minggu kemarin adalah bukti otentik bahwa kita memilih untuk hidup dengan perasaan yang menyala, alih-alih mati rasa di hadapan dunia modern yang membosankan.

Hidup sudah terlanjur rumit dan penuh perhitungan. Jadi, biarlah akhir pekan kita tetap menjadi urusan yang tidak rasional.

Biarkan diri kita tetap cemas, berteriak, dan membiarkan suasana hati kita diombang-ambingkan oleh tangan dan kaki sebelas orang yang berlari di atas rumput hijau. Karena di dalam ketidakpastian yang gila itulah, kita bisa sejenak melupakan beban hidup dan merasa benar-benar hidup. (mfrll)


Catatan Kaki / Referensi:

[1] Hornby, Nick. (1992). Fever Pitch. London: Victor Gollancz. (Memoar otobiografi yang secara radikal membedah bagaimana kecintaan ekstrem pada klub sepak bola dapat mendikte seluruh keputusan hidup, hubungan asmara, dan kesehatan mental seorang manusia).

[2] Galeano, Eduardo. (1995). Soccer in Sun and Shadow. London: Verso. (Buku puitis yang memotret sepak bola bukan sebagai industri, melainkan sebagai bentuk seni rakyat dan pelarian spiritual bagi kelas pekerja yang tertindas).

[3] Morris, Desmond. (1981). The Soccer Tribe. London: Jonathan Cape. (Studi antropologi yang menyamakan suporter sepak bola modern dengan suku-suku purba, di mana pertandingan adalah ritual perburuan dan stadion adalah medan pertempuran suci).

[4] Marsh, Peter, Rosser, Elisabeth, & Harré, Rom. (1978). The Rules of Disorder. London: Routledge. (Penelitian psikologi sosial yang menemukan bahwa keliaran dan kekacauan di sepak bola berfungsi sebagai saluran katarsis untuk mengalirkan agresi masyarakat ke tempat yang aman).

[5] Goldblatt, David. (2014). The Game of Our Lives. London: Nation Books. (Membahas bagaimana komersialisasi sepak bola modern mengikis budaya suporter tradisional dan bagaimana suporter kelas pekerja mencoba merebut kembali ruang emosional mereka).

[6] Bromberger, Christian. (1995). Football as a Surrogate Religion. Dalam buku The Rituals of Football. Oxford: Berg. (Studi yang membahas bagaimana tribune stadion berfungsi sebagai ruang pembangkangan sipil dan teater ekspresi yang bebas dari kontrol sosial sehari-hari).

[7] Kutipan terkenal Arrigo Sacchi, manajer legendaris AC Milan akhir era 1980-an, yang menggambarkan posisi paradoks sepak bola: ia tidak esensial untuk bertahan hidup, tapi menjadi penentu gairah hidup manusia.

[8] Camus, Albert. (1953). Ditulis dalam artikel majalah Algiers-Review. (Filsuf eksistensialis dan pemenang Nobel Sastra ini menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kegagalan ia pelajari dari lapangan hijau, bukan dari universitas).

[9] Spaaij, Ramón. (2006). Understanding Football Hooliganism. Amsterdam: Amsterdam University Press. (Mengulas bagaimana ikatan sosial dan persaudaraan antar-suporter justru menguat secara ekstrem ketika mereka mengalami situasi sulit atau patah hati bersama).