BACOTANBOLA - Ada kalanya sejarah memilih momen-momen besar untuk dicatat, tapi hati anak kecil punya pilihannya sendiri. Dunia akan selalu menyebut 2009 sebagai awal keajaiban, atau 2011 sebagai puncak keindahan. Tapi bagiku, bukan keduanya yang paling berharga. Bagiku, musim 2014/15 adalah dongeng sejati. Saat itu aku berusia sebelas tahun, cukup besar untuk paham arti kemenangan, cukup kecil untuk percaya bahwa semua ini adalah mukjizat.
Masa Bocah dan Mimpi yang Menjadi Nyata
Di usia sebelas tahun, aku mulai bisa menahan kantuk demi menonton pertandingan larut malam. Bola di layar kaca bukan lagi sekadar permainan, tapi semacam wahyu. Aku duduk di ruang tamu, sendirian atau ditemani ayah, dan mataku tak pernah lepas dari layar. Barcelona bukan lagi hanya klub yang kucintai lewat PES 2009 atau jersey KW dari toserba. Mereka menjelma menjadi legenda hidup yang benar-benar kutonton, langkah demi langkah.
Setiap kemenangan terasa seperti hadiah ulang tahun. Setiap gol seperti bintang jatuh yang jatuh tepat ke dalam genggamanku.
Trio MSN, Mukjizat Sepakbola Nyata
Musim itu adalah lahirnya trio yang kini hanya bisa diceritakan dengan nada kagum: Messi, Suárez, Neymar. Mereka disebut MSN, tiga huruf sederhana yang kala itu terasa sakral.
Messi tetap jadi poros dunia. Setiap kali ia menggiring bola, seakan gravitasi diatur ulang sesuai keinginannya. Suárez adalah binatang buas, yang berlari seolah hidupnya bergantung pada setiap gol. Neymar, dengan rambut pirang anehnya, menari samba di lapangan hijau, membuat lawan kehilangan akal.
Bagi bocah sebelas tahun, mereka bukan sekadar pesepakbola. Mereka adalah pahlawan super yang turun ke bumi. Setiap kali Barcelona menyerang, aku merasa layar televisi terlalu kecil untuk menampung derasnya badai.
Copa del Rey dan Gol Messi dari Planet Lain
Salah satu momen yang hingga kini masih kuputar ulang di kepalaku adalah final Copa del Rey melawan Athletic Bilbao. Messi mencetak gol yang tak masuk akal: dari garis tengah, ia membawa bola sendiri, melewati tiga, empat, lima pemain, lalu melepaskan tembakan ke pojok gawang.
Aku berteriak kencang di ruang tamu. Ayah menoleh dengan wajah heran, tapi aku tak bisa menjelaskan. Itu bukan sekadar gol. Itu adalah mukjizat yang dikirim langsung dari planet lain.
Barcelona menang 3-1, Neymar ikut mencetak gol, dan malam itu aku merasa sedang menonton tim yang tak berasal dari bumi.
Malam Berlin, Ketika Surga Tersaji di Depan Mata
Puncaknya tentu final Liga Champions di Berlin. Barcelona berhadapan dengan Juventus, tim penuh legenda. Ada Buffon di bawah mistar, Pirlo dengan janggut tuanya yang agung, Pogba yang muda dan ganas, serta Tevez yang licik. Mereka datang sebagai gladiator. Tapi Barcelona datang sebagai pasukan dari langit.
Ketika Rakitic mencetak gol cepat di awal, aku melompat kegirangan. Ketika Morata menyamakan kedudukan, jantung kecilku berdegup tak karuan. Saat Suárez menyambar bola muntah untuk membuat skor jadi 2-1, aku teriak sekencang-kencangnya, seakan tetangga harus tahu betapa bahagianya aku malam itu. Dan ketika Neymar menutupnya dengan gol ketiga, aku hanya bisa berdiri terpaku di depan televisi. Mataku panas. Senyumku lebar.
Barcelona juara.
Treble sah di tangan.
Aku merasa ikut mengangkat trofi itu bersama mereka, meski kenyataannya aku hanya seorang bocah kurus berusia sebelas tahun di ruang tamu. Tapi malam itu, aku adalah bagian dari Barcelona.
Kenangan yang Lebih Abadi daripada Sejarah
Orang-orang akan selalu mengingat 2009 dan 2011. Tapi bagiku, 2015 adalah milikku. Aku menontonnya langsung, aku merasakannya, aku hidup di dalamnya. Treble itu bukan hanya catatan sejarah klub, melainkan catatan pribadiku.
Kini, bertahun-tahun kemudian, setiap kali mendengar nama Berlin, aku tidak teringat Tembok atau sejarah besar lain. Aku teringat malam itu. Malam ketika Barcelona mengangkat Liga Champions, malam ketika aku yang berusia sebelas tahun merasa ikut mengangkatnya juga.
Treble 2015 bukan sekadar kemenangan. Ia adalah surga kecil yang pernah benar-benar kualami. (mfrll)

0 Komentar